MENGEMBANGKAN PERDAGANGAN ALA ROSULULLAH

Ternyata system perdagangan yang diajarkan oleh Rosulullah SAW kepada kita sejak berabad-abad yang lalu, sekarang ini juga sedang digandrungi dan digembar-gemborkan oleh marketer modern.

berdagang-yourswindow.blogspot.com

Selain berdakwah Rasulullah juga seorang saudagar ternama. Sejak usia muda, beliau dipandang sebagai sudagar sukses. Hal tersebut tidak lepas dari aktifitas marketing yang diterapkannya, yang tak cuma ampuh tapi juga sesuai syariah dan tentu saja penuh ridlo dari Allah SWT. Jika teman – teman tertarik menerapkannya, selain mendapat keuntungan, insyaallah bisnis kalianpun akan barokah. Aamiin…
Visi beliau dalam berdagang hanya satu, yaitu:
“Bahwa transaksi bisnis sama sekali tidak ditujukan untuk memupuk kekayaan pribadi, namun justru untuk membangun kehormatan dan kemuliaan bisnis dengan etika yang tinggi. Adapun hasil yang didapat harus didistribusikan ke sebanyak mungkin umat.”

Ada 4 Tips Marketing ala Rasulullah

1. Jujur adalah Brand
Saat berdagang Nabi Muhammad SAW muda dikenal dengan julukan Al Amin (yang terpercaya). Sikap ini tercermin saat dia berhubungan dengan customer maupun pemasoknya.
Nabi Muhammad SAW mengambil stok barang dari Siti Khadijah, konglomerat kaya yang akhirnya menjadi istrinya. Dia sangat jujur terhadap Siti Khadijah. Dia pun jujur kepada pelanggan. Saat memasarkan barangnya dia menjelaskan semua keunggulan dan kelemahan barang yang dijualnya. Bagi Rasulullah kejujuran adalah “brand” nya.
2. Mencintai Customer
Dalam berdagang Rasulullah sangat mencintai customer seperti dia mencintai dirinya sendiri. Itu sebabnya dia melayani pelanggan dengan sepenuh hati. Bahkan, dia tak rela pelanggan tertipu saat membeli. Sikap ini mengingatkan pada hadits yang beliau sampaikan, “Belum beriman seseorang sehingga dia mencintai saudaramu seperti mencintai dirimu sendiri.”
3. Penuhi Janji
Nabi sejak dulu selalu berusaha memenuhi janji-janjinya. Firman Allah, “Wahai orang-orang yang beriman penuhi janjimu.” (QS Al Maidah 3).
Dalam dunia pemasaran, ini berarti Rasulullah selalu memberikan value produknya seperti yang diiklankan atau dijanjikan. Dan untuk itu butuh upaya yang tidak kecil. Pernah suatu ketika Rasulullah marah saat ada pedagang mengurangi timbangan. Inilah kiat Nabi menjamin customer satisfaction (kepuasan pelanggan).
4. Segmentasi ala Nabi
Nabi pernah marah saat melihat pedagang menyembunyikan jagung basah di sela-sela jagung kering. Hal itu dengan Nabi, saat menjual barang dia selalu menunjukkan bahwa barang ini bagus karena ini, dan barang ini kurang bagus, tapi harganya murah.
Pelajaran dari kisah itu adalah bahwa Nabi selalu mengajarkan agar kita memberikan good value untuk barang yang dijual. Sekaligus Rasulullah mengajarkan segmentasi: barang bagus dijual dengan harga bagus dan barang dengan kualitas lebih rendah dijual dengan harga yang lebih rendah. Tidak mencampurkan barang bagus dengan barang yang tidak bagus agar mendapat keuntungan lebih bagi penjual tapi merugikan konsumen.

Prinsip Berbisnis ala Rasulullah SAW

  • Tidak boleh berbohong dan menipu pembeli.
  • Carilah keuntungan yang wajar. Jika pembeli bertanya, sebutkan harga modalnya.
  • Kepada para pelanggan yang tidak mampu membayar kontan (tunai), berikanlah waktu untuk melunasinya. Bila dia betul-betul tidak mampu membayar setelah masa tenggat pengunduran itu, padahal dia telah berusaha, maka ikhlaskanlah.
  • Hindari sumpah yang berlebihan, apalagi sumpah palsu untuk mengelabui konsumen.
  • Lakukan transaksi jika telah ada kata sepakat antara penjual dan pembeli.
  • Lakukan penimbangan dan penakaran dengan benar dan setepat mungkin.
  • Camkan pada pembeli bahwa yang membayar di dengan uang muka (kredit) bahwa ia tidak boleh menjualnya sebelum barang tersebut benar-benar menjadi miliknya (terbayar lunas terlebih dahulu).
  • Jangan melakukan transaksi monopoli dalam perdagangan, berikan kesempatan yang lain untuk berdagang juga.

Dialog Seorang Pedagang Muslim (Sahabat) dengan Rosulullah:

Kala itu sahabat sempat mengeluh kepada Nabi tentang keuntungan perdagangan mereka di Madinah. Kira – kira dialognya seperti ini :

Sahabat : “Ya Rasulullah, keuntungan yang kami dapat kalah dari keuntungan yang didapat pedagang Yahudi. Mereka mengurangi takaran pada barang dagangan mereka.”

Nabi       : ”Lalu, bagaimana cara kalian berdagang?”

Sahabat : “Kami tidak membohongi pembeli. Kami menjual dengan takaran                     yang pas, tidak dikurangi sedikitpun.”

Nabi       : “Kalau begitu, cara berdagang kamu kurang bagus. Lebihkan takarannya. “

Dan, tak sampai 2 tahun kemudian, Pedagang2 muslim sudah menguasai pasar Madinah..

Luar biasa bukan? Metode yang dianjurkan Nabi pada saat itu sebenarnya merupakan cara marketing yang kini sedang digembar – gemborkan oleh para marketer modern, yaitu cara memberikan pelayanan melebihi ekspektasi pasar.

Dengan cara ini, ada 2 efek positif, yaitu:

  • Timbul kepercayaan yang tinggi pada konsumen.
  • Konsumen yang merasa puas, memberikan publikasi dari mulut ke mulut. tak perlu diragukan lagi, iklan dari mulut ke mulut merupakan iklan yang paling efektif, karena yang menyampaikannya adalah orang yang anda kenal, dan orang orang tersebut memiliki pengalaman terhadap produknya.

Tak hanya dua efek itu saja teman. Ada lagi efek yang lebih penting, yaitu mendapatkan barokah dari Allah Swt. Aamiin ya Robbal Alaamiin…

Sumber

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s