UNTUK MEMPEROLEH LABEL HALAL ITU BERLIKU

Ternyata label halal itu tak mudah diperoleh para pelaku bisnis di Indonesia. Selain sertifikat halal dari MUI, ada lagi ketentuan lain yang harus ditaati agar bisa memasang label halal pada produk bisnis mereka.

Ketentuan itu adalah wajib daftar produk di departemen teknis seperti Departemen Kesehatan untuk produk makanan, minuman dan odat – obatan, melalui BPOM untuk mendapatkan sertifikat bahwa produknya layak konsumsi. Departemen Perdagangan untuk barang dagangan dan lain sebagainya.

Bagi Indonesia yang mayoritas penduduknya adalah penganut agama Islam, kebutuhan akan barang konsumsi yang sesuai dengan ajaran agama atau halal menjadi penting.

Masyarakat Indonesia sebagian besar hanya melihat logo halal yang dikeluarkan oleh Majelis Ulama Indonesia atau MUI sebagai patokan bahwa makanan atau produk tersebut aman secara agama untuk digunakan.

Namun, tidak semua orang mengetahui proses munculnya lambang ‘halal’ dari MUI tersebut.

Lia Amalia, Kepala Bidang Sosialisasi dan Promosi Halal Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM) MUI menjabarkannya dalam seminar halal yang diselenggarakan di Hotel Mulia Senayan, Jumat (16/10).

“Dalam kewenangan menentukan halal oleh MUI, terdapat dua lembaga, yaitu LPPOM MUI dan Komisi Fatwa MUI,” kata Lia membuka seminar.

LPPOM MUI bertugas untuk mengkaji kandungan yang berada dalam sebuah makanan ataupun produk konsumsi lainnya secara sains melalui pengajuan laboratorium guna memastikan barang tersebut halal.

Sedangkan Komisi Fatwa MUI bertugas untuk menentukan kehalalan dari produk tersebut berdasarkan sudut pandang aturan Islam atau syariat.

Bila sebuah produk yang tengah diuji berhasil lolos dan dipastikan halal oleh LPPOM dan disahkan melalui fatwa MUI, maka akan mendapatkan sertifikat Halal MUI. Namun, bukan berarti langsung berhak mencantumkan logo halal di produknya.

“Produk itu juga harus mendapatkan izin dari Badan Pengawas Obat dan Makanan, BPOM, bila ingin mendapatkan logo halal MUI,” kata Lia.

Prosedur ini berarti, setelah produk dipastikan halal secara agama, produk itu juga harus dipastikan aman secara kesehatan. Dan BPOM memiliki kewenangan untuk itu.

Bila sudah mendapatkan izin BPOM berupa nomor registrasi, maka produk tersebut baru akan diizinkan memasang label halal MUI dalam kemasan atau publikasi.

Sebuah produk bila ingin diuji kehalalannya, dapat mengajukan diri atau mendaftar kepada LPPOM MUI. Setelah memenuhi semua syarat dan biaya pendaftaran, maka LPPOM nantinya akan mengaudit proses produksi dan juga implementasi sistem halal berdasarkan standar atau kriteria yang sudah ditetapkan MUI.

Pendaftaran dapat langsung mendatangai LPPOM MUI di Bogor atau mendaftar secara daring di laman MUI.

Pendaftaran langsung mendatangi LPPOM MUI Bogor atau mendaftar secara daring di laman MUI.

Hasil audit dapat menjadi dua, yaitu berupa sertifikat Halal, dan juga nilai implementasi sistem jaminan halal atau HAS. Keduanya wajib ada untuk mendapatkan sertifikat HAS sebagai modal pengakuan halal.

“Sertifikat halal berlaku selama dua tahun, sedangkan sertifikat HAS berlaku selama empat tahun.” kata Lia.

MUI menerapkan serangkaian standar ketat untuk pengakuan halal, berdasarkan prinsip halal dan thayyib. Halal berarti adalah aman secara agama untuk dimakan, tidak mengandung zat atau kandungan yang diharamkan Islam.

Dan thayyib, artinya adalah baik, bermakna bahwa makanan atau produk tersebut dapat membawa kebaikan bagi yang menggunakan, minimal secara fisik.

Label Halal dari MUI bukan hanya dapat digunakan dalam label kemasan makanan atau produk ritel, tetapi juga dapat digunakan untuk restoran atau katering.  Kini bukan hanya makanan, bahkan label Halal sudah merambah kosmetik, sendal, tissue, hingga sistem perbankan.

Jadi intinya sertifikat halal baru bisa dipasang melekat pada produk setelah Departemen teknis tertentu menyetujui produk tersebut boleh beredar di Indonesia.

Sumber

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s