Raden Ajeng Kartini

https://agendabisnisku.files.wordpress.com/2016/04/7e6a9-pahlawan-ra-kartini.jpg?w=618&h=618
Raden Ajeng Kartini lahir di Jepara tanggal 21 April 1879 dan meninggal dunia 17 September 1904. Kartini lahir dalam keluarga bangsawan suku Jawa, pada saat itu Jawa adalah merupakan bagian dari kekuasaan kolonial Hindia Belanda. Ayah Kartini bernama Sosroningrat, menjabat sebagai Kepala Kabupaten [Bupati] Jepara. Ayah Kartini, pada awalnya kepala distrik Mayong.

SIAPAKAH R.A. KARTINI ? [FOTO - GAMBAR]

Ibunya, Ngasirah adalah putri Madirono seorang guru agama di Teluwakur. Dia adalah istri pertamanya, tapi tidak dianggap sebagai isteri yang penting. Pada saat itu, poligami adalah praktik umum di kalangan bangsawan.  Peraturan kolonial menambahkan aturan bahwa seorang Kepala Kabupaten harus menikahi/ mempunyai isteri seorang anggota bangsawan. Karena Ngasirah itu tidak berasal dari kalangan bangsawan yang cukup tinggi, maka kemudian ayahnya menikahi Woerjan [Moerjam] yang merupakan keturunan langsung Raja Madura. Setelah pernikahan kedua ini, ayah Kartini diangkat menjadi Kepala Kabupaten Jepara, menggantikan ayah istri keduanya sendiri, Tjitrowikromo.

SIAPAKAH R.A. KARTINI ? [FOTO - GAMBAR]

Kartini adalah anak kelima dilahirkan dalam sebuah keluarga dengan tradisi intelektual yang kuat . Kakeknya, Pangeran Ario Tjondronegoro IV, menjadi Kepala Kabupaten pada usia 25 tahun, sementara saudara tua Kartini, Sosrokartono adalah seorang ahli bahasa. Kartini diijinkan untuk bersekolah sampai dia berumur 12 tahun. Di sini, dia mendapatkan mata pelajaran bahasa Belanda, suatu prestasi yang tidak biasa bagi wanita Jawa pada saat itu. Setelah memasuki usia 12 tahun Kartini ‘dipingit’ [tidak diijinkan keluar dari rumah], sebuah praktik umum di kalangan bangsawan Jawa, untuk mempersiapkan gadis-gadis muda mereka untuk masa menjelang pernikahan .

SIAPAKAH R.A. KARTINI ? [FOTO - GAMBAR]

Selama pengasingan [dipingit] perempuan tidak diizinkan untuk meninggalkan rumah orangtua mereka sampai mereka menikah, di mana titik otoritas atas mereka dialihkan kepada suami mereka. Dalam hal ini beruntung ayah Kartini lebih toleran selama pemingitan putrinya, ia memberikan hak istimewa seperti diberikan kesempatan untuk mengikuti pelajaran bordir dan kadang-kadang tampil di depan umum untuk acara khusus.

SIAPAKAH R.A. KARTINI ? [FOTO - GAMBAR]

Selama pengasingan itu, Kartini terus mendidik dirinya sendiri. Karena dia bisa berbahasa Belanda, ia mendapatkan beberapa sahabat pena Belanda. Salah satunya adalah seorang gadis Belanda bernama Rosa Abendanon yang kemudian kelak menjadi teman dekatnya. Buku, surat kabar dan majalah Eropa menganggap pemikiran Kartini sesuai dengan pemikiran kaum feminis Eropa dan mempunyai tekad yang besar untuk memperbaiki kondisi perempuan pribumi Indonesia , yang pada waktu itu memiliki status sosial yang kurang diuntungkan. Keprihatinan Kartini tidak hanya di bidang emansipasi wanita, tapi juga masalah lain dari masyarakatnya. Kartini melihat bahwa perjuangan bagi perempuan untuk memperoleh kebebasan , otonomi dan persamaan hukum itu hanya bagian dari gerakan yang lebih luas .

SIAPAKAH R.A. KARTINI ? [FOTO - GAMBAR]

Kartini sangat kutu buku, pada era dimana media cetak dan buku lokal sangat terbatas, dia rajin membaca surat kabar Semarang De Locomotief, diedit oleh Pieter Brooshooft, serta leestrommel, satu set majalah diedarkan oleh toko-toko buku untuk pelanggan. Dia juga membaca majalah budaya dan ilmiah serta majalah wanita Belanda De Hollandsche Lelie, pada majalah ini RA. Kartini mulai mengirim kontribusi tulisan untuk diterbitkan. Sejak sebelum berusia 20 tahun RA. Kartini telah membaca Max Havelaar dan Surat Cinta oleh Multatuli. Dia juga membaca De Stille Kracht [The Hidden Force] oleh Louis Couperus, karya-karya Frederik van Eeden, Augusta de Witt, penulis Romantis feminis Goekoop de – Jong Van Eek dan novel anti – perang oleh Berta von Suttner, Die Waffen Nieder ! [Lay Down Your Arms !], yang kesemuanya merupakan terbitan Belanda.

SIAPAKAH R.A. KARTINI ? [FOTO - GAMBAR]

Orang tua Kartini sejak lama sudah mengatur pernikahannya dengan Joyodiningrat, Kepala Kabupaten [Bupati Rembang], yang sebenarnya sudah memiliki tiga orang istri. Dia menikah pada tanggal 12 November 1903. Pernikahan itu sangat merisaukannya, sangat bertentangan dengan keinginan dan hati nurani Kartini, tetapi pada saat itu dia luluh hatinya demi untuk menenangkan ayahnya yang sakit . Joyodiningrat suaminya, sangat memahami tujuan hidup dan cita-cita Kartini. Ia juga sangat mendukung Kartini untuk mendirikan sekolah bagi perempuan di sebelah timur pintu gerbang kompleks Kantor Kabupaten Rembang. Satu-satunya putra Kartini lahir pada 13 September 1904. Beberapa hari kemudian pada 17 September 1904, Kartini meninggal pada usia 25 tahun.  RA. Kartini dimakamkan di Desa Bulu, Kabupaten Rembang.

SIAPAKAH R.A. KARTINI ? [FOTO - GAMBAR]

Setelah Raden Adjeng Kartini meninggal, Mr JH Abendanon, Menteri Kebudayaan, Agama dan Industri di Hindia Timur, berkumpul dan berencana untuk menerbitkan surat-surat Kartini yang telah dikirim ke teman-temannya di Eropa . Buku itu berjudul Door Duisternis tot Licht [Out of Dark Comes Light][Habis Gelap Terbitlah Terang]. Kumpulan surat-surat RA. Kartini tersebut akhirnya diterbitkan pada tahun 1911, terdiri dari lima edisi, dengan beberapa huruf dan kalimat tambahan termasuk dalam edisi akhir , dan diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Agnes L. Symmers diterbitkan dengan judul berbahasa Inggris Letters of a Princess Java.

SIAPAKAH R.A. KARTINI ? [FOTO - GAMBAR]

Dalam surat-suratnya , RA. Kartini menulis tentang pandangannya dari kondisi sosial yang berlaku pada saat itu , terutama kondisi perempuan asli Indonesia. Sebagian besar surat-suratnya memprotes kecenderungan Kebudayaan Jawa untuk memaksakan hambatan untuk pengembangan diri kaum perempuan. Dia ingin wanita memiliki kebebasan untuk belajar dan belajar. R.A. Kartini menulis ide dan ambisi, Zelf – ontwikkeling, Zelf – onderricht , Zelf – vertrouwen , Zelf – werkzaamheid dan Solidariteit.  Ide-ide ini semua didasarkan pada Religieusiteit, Wijsheid en Schoonheid, yaitu  kepercayaan kepada Tuhan, kebijaksanaan dan keindahan, bersama dengan Humanitarianisme [kemanusiaan] dan Nasionalisme. Surat-surat Kartini juga menyatakan harapannya untuk dukungan dari luar negeri . Dalam korespondensinya dengan Estell ‘Stella’ Zeehandelaar, RA Kartini mengungkapkan keinginannya untuk menjadi seperti kaum muda Eropa. Dia menggambarkan penderitaan perempuan Jawa yang terbelenggu oleh tradisi, tidak mampu belajar, terpencil, dan sebuah ungkapan siapa yang harus siap untuk berpartisipasi dalam pernikahan poligami dengan laki-laki yang mereka tidak kenal sebelumnya.

SIAPAKAH R.A. KARTINI ? [FOTO - GAMBAR]

Publikasi surat-surat R.A. Kartini yang ditulis oleh seorang wanita Jawa asli, menarik minat besar di Belanda dan ide-ide Kartini mulai mengubah cara Belanda melihat perempuan pribumi di Jawa. Ide-idenya juga memberikan inspirasi bagi tokoh-tokoh dalam perjuangan untuk kemerdekaan. Ada beberapa orang beralasan untuk meragukan kebenaran surat-surat R.A. Kartini yang terlalu progressive pada saat itu. Ada dugaan bahwa Abendanon-lah yang bertindak berpura-pura sebagai R.A. Kartini dalam surat-suratnya. Kecurigaan ini timbul karena R.A. Kartini dipublikasikan bertepatan momentumnya pada waktu ketika Pemerintah Kolonial Belanda menerapkan Kebijakan ‘Politik Etis’ di Hindia Belanda, dan Abendanon adalah salah satu pendukung yang paling menonjol dari kebijakan ini. Sebagian besar saat ini keberadaan surat-surat R.A Kartini tidak diketahui.

R.A Kartini sangat mencintai ayahnya meskipun jelas bahwa hubungan kasih sayang yang mendalam ini menjadi kendala lain untuk realisasikan ambisinya . Meskipun R.A Kartini juga sadar bahwa ayahnya sudah cukup progresif untuk memungkinkan putrinya tidak sebatas sekolah sampai usia 12 saja. Meskipun sebelumnya sang ayah telah mencegah keinginan R.A Kartini untuk melanjutkan studinya di Belanda atau memasuki sekolah kedokteran di Batavia. Dalam surat-suratnya, R.A Kartini menceritakan bahwa ayahnya memberikan izin kepadanya untuk belajar menjadi guru di Batavia [Jakarta] walaupun pada kenyataannya juga mengalami kegagalan.

Keinginan R.A Kartini untuk melanjutkan studi di Eropa itu pernah dinyatakan dalam surat-suratnya. Beberapa sahabat penanya menyatakan sangat mendukung R.A. Kartini dalam upaya ini. Dan ketika akhirnya ambisi Kartini digagalkan, banyak teman-temannya menyatakan kekecewaannya. Pada akhirnya rencananya untuk belajar di Belanda ditransmutasikan menjadi rencana untuk perjalanan ke Batavia atas saran dari Mrs. Abendanon bahwa ini akan menjadi yang terbaik untuk RA. Kartini dan adiknya, R.Ayu Rukmini.

Namun demikian, pada tahun 1903 pada usia 24 tahun, saat dia berencana untuk belajar menjadi guru di Batavia. Dalam sebuah surat kepada Nyonya Abendanon, R.A. Kartini menulis bahwa rencana tersebut telah ditinggalkan karena dia akan menikah. Padahal kenyataan bahwa Departemen Pendidikan Belanda telah memberikan izin untuk RA Kartini dan R.Ay. Rukmini untuk belajar di Batavia .

Sikap R.A. Kartini terhadap adat tradisional Jawa mulai berubah dan melunak. Dia menjadi lebih toleran. Dia mulai merasa bahwa pernikahannya akan membawa keberuntungan bagi ambisinya untuk mengembangkan sekolah bagi perempuan pribumi. Dalam surat-suratnya, R.A. Kartini menyebutkan bahwa tidak hanya suaminya seorang pria terhormat, tetapi juga mendukung keinginannya untuk mengembangkan industri ukiran kayu di Jepara dan sekolah bagi perempuan pribumi, juga ia menyebutkan akan segera menulis sebuah buku. Sayangnya, ambisi ini belum terwujud akibat R.A Kartini harus mati muda pada tahun 1904 pada usia 25 tahun.

SIAPAKAH R.A. KARTINI ? [FOTO - GAMBAR]

Meski R.A Kartini harus mati muda, namun kisah perjalan hidup, kegigihan serta komitmennya terhadap nasib perempuan, akhirnya menginspirasi keluarga Van Deventer untuk mendirikan RA Kartini Foundation yang membangun sekolah untuk perempuan yang diberi nama ‘Sekolah Kartini’ di Semarang pada tahun 1912 , diikuti oleh sekolah-sekolah perempuan lain di Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon dan daerah lainnya.

Pada tahun 1964, Presiden Sukarno menyatakan hari kelahiran R.A. Kartini Tanggal tanggal 21 April, dinyatakan sebagai ‘Hari Kartini’ dan dijadikan menjadi hari libur nasional Indonesia. Keputusan ini telah dikritik. Diusulkan bahwa Hari Kartini harusnya cukup dirayakan dalam hubungannya dengan Hari ibu Indonesia, pada tanggal 22 Desember sehingga dipilihnya R.A. Kartini sebagai pahlawan nasional tidak akan menaungi/ mengesampingkan peran pejuang wanita yang lain yang lebih heroik mengangkat senjata untuk melawan penjajah .

Sebaliknya, orang-orang yang mengakui pentingnya R.A. Kartini berpendapat bahwa R.A. Kartini tidak hanya seorang feminis yang ditinggikan statusnya oleh perempuan di Indonesia, dia juga seorang tokoh nasionalis, dengan ide-ide baru yang berjuang atas nama rakyat dan memainkan peran dalam perjuangan nasional untuk kemerdekaan.

Berikut di bawah ini saya share beberapa gambar-foto R.A. Kartini, semoga bermanfaat.

SIAPAKAH R.A. KARTINI ? [FOTO - GAMBAR]
SIAPAKAH R.A. KARTINI ? [FOTO - GAMBAR]
SIAPAKAH R.A. KARTINI ? [FOTO - GAMBAR]
SIAPAKAH R.A. KARTINI ? [FOTO - GAMBAR]
SIAPAKAH R.A. KARTINI ? [FOTO - GAMBAR]
SIAPAKAH R.A. KARTINI ? [FOTO - GAMBAR]
SIAPAKAH R.A. KARTINI ? [FOTO - GAMBAR]
SIAPAKAH R.A. KARTINI ? [FOTO - GAMBAR]
SIAPAKAH R.A. KARTINI ? [FOTO - GAMBAR]
SIAPAKAH R.A. KARTINI ? [FOTO - GAMBAR]
SIAPAKAH R.A. KARTINI ? [FOTO - GAMBAR]
SIAPAKAH R.A. KARTINI ? [FOTO - GAMBAR]
SIAPAKAH R.A. KARTINI ? [FOTO - GAMBAR]
SIAPAKAH R.A. KARTINI ? [FOTO - GAMBAR]
SIAPAKAH R.A. KARTINI ? [FOTO - GAMBAR]
SIAPAKAH R.A. KARTINI ? [FOTO - GAMBAR]
SIAPAKAH R.A. KARTINI ? [FOTO - GAMBAR]
SIAPAKAH R.A. KARTINI ? [FOTO - GAMBAR]
SIAPAKAH R.A. KARTINI ? [FOTO - GAMBAR]
SIAPAKAH R.A. KARTINI ? [FOTO - GAMBAR]
SIAPAKAH R.A. KARTINI ? [FOTO - GAMBAR]
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s