KOTA TERAPUNG

Salah satu calon gubernur peserta pilkada DKI 2017 pernah menyinggung tentang kota atau rumah terapung, namun sayangnya hanya sebatas retorika dan tidak membawa konsep yang jelas. Karenanyalah banyak netizen yang mem’bully’nya.

Sebenarnya konsep “kota atau rumah terapung” itu sudah ada, bahkan di Indonesia juga ada, tetapi belum terlalu populer, karena pembangunan perumahan sekarang masih umum dilakukan di daratan. Bahkan pemukiman kembali suku – suku di Indonesia yang menghuni lautan dilakukan di daratan bukan di perairan atau lautan..

Jika kita menoleh ke belakang, di negara kita dikenal adanya Suku Laut tinggal di sepanjang pesisir kepulauan Riau. Mereka tidak tinggal di daratan, tetapi di rumah – rumah terapung di lautan seperti perahu.

suku-laut
Contoh Rumah Suku Laut

Kota Terapung Sebagai Solusi Kota Masa Depan

Kota masa depan tidak cuma ada di daratan tapi juga di perairan. Antisipasi naiknya muka air laut akibat pemanasan global, para arsitek mulai merancang kota terapung yang gampang diperluas atau dipindah.

Arsitek sering hanya berpikir tentang bangunan. Tapi sebetulnya kita harus mengubah pola pikir tentang perkotaan. Perairan adalah bagian dari kota, yang bukan cuma ancaman melainkan juga bisa berguna. Demikian kata Koen Olthuis, dari biro arsitek Waterstudio.

Misalnya proyek fantastis di kota Tromsö, Norwegia. Hotel bintang lima berbentuk kristal salju ini mengapung di atas laut. “Krystall Hotel” punya dana penuh untuk membangun, tapi masih menunggu izin.

Pulau bungalow siap dibangun tahun ini dan akan dibawa ke Maladewa.

Arsitek Belanda Koen Olthuis dengan rancangan visionernya, didaulat para ahli sebagai inovator terpenting abad 21.

“Selama 15 tahun terakhir, saya bekerja total untuk tema ini, dan sekarang mencapai titik menentukan. Masadepan akan lebih basah. Perubahan iklim dan urbanisasi makin meningkat. Pemerintah kota dan arsitek kini melihat tren kota terapung“, ujar Koen Olthuis.

Seperempat wilayah Belanda berada di bawah batas permukaan laut. Ancaman bahaya sudah lami jadi tema kerja arsitek di negeri ini.

Bangunan yang mengapung di atas air juga tidak baru. Tapi dalam 10 tahun terakhir jumlahnya naik tajam. Saat ini di Belanda ada 300.000 bangunan di atas air

Koen Olthuis menegaskan; “Masalahnya bukan teknologi tapi regulasi. Kami harus meyakinkan pemerintah, untuk mengubah aturan, agar mengizinkan pembangunn rumah di atas air. Ini perahu atau rumah? Mereka harus sadar, bahwa rumah di air sama dengan di darat.

Bermukim dan bekerja di atas air. Pengusaha Olaf Janssen bisa mewujudkan impiannya. Harga rumah bertingkat 3 di atas air ini: sekitar satu triliun Rupiah.

Tidak semua warga mampu membelinya. Tapi Janssen melihat potensi besar rumah terapung itu.

“Kami dapat banyak kunjungan, semua terpukau oleh ruang bebas dan pemandangannya. Tentu mereka bertanya, apakah saat angin kencang rumah bergerak? Ya ! Tapi mereka juga mengatakan, kami ingin beli rumah terapung”, kata Olaf Janssen seorang pemilik rumah terapung.

Tren elemen mengapung juga melanda arsitek di negara lain.

Rumah mengapung “Floatwing” ini dirancang sebuah universitas di Portugal. Bisa digunakan sebagai rumah liburan atau rumah tinggal permanen.

Ini rumah rancangan Baca Architects dari Inggris: dengan rumah mengapung diharapkan krisis perumahan di London bisa diatasi.

Model rancangan Waterstudio ini sedang dibangun.

Vila di atas air atau di pulau mikro sudah eksis di Uni Emirat Arab dan Maladewa.

Tapi proyeknya hanya menyasar orang superkaya. Arsitektur tren masa depan harusnya bisa menawarkan solusi lain.

Karena itu Waterstudio bekerjasama dengan UNESCO juga mengembangkan proyek bagi warga biasa.

“Sebagai Arsitek, kita tidak boleh hanya membangun untuk orang kaya. Tapi kami memulainya dengan proyek semacam ini, untuk mengumpulkan pengetahuan. Kini dengan teknologi tersebut, kami membuat solusi bagi masalah global. Satu milyar warga miskin hidup di kawasan kumuh dekat air. Jika kita bisa terapkan teknologinya, membangun sekolah,sumber energi, dan merenovasi, situasinya bisa amat berbeda, ujar Koen Olthuis.

Container terapung sebagai modul yang bisa diperluas. Tergantung kebutuhan, bisa dirangakai atau dibongkar dengan cepat.

Kota terapung yang disebut Floating City Apps pertama, akan diwujudkan tahun ini juga dan dikirim ke Bangladesh.

Sumber

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s